Sabtu, 01 Maret 2014
Perlawanan diponegoro
Perlawanan Diponegoro (1825 – 1830)
Perlawanan rakyat Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro merupakan
pergolakan terbesar yang dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa. Pemerintah
kolonial Belanda mengalami kesulitan mengatasi perlawanan ini dan menanggung
biaya yang sangat besar. Adapun sebab-sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat
dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus.
a. Sebab-Sebab Umum
1) Wilayah Mataram semakin dipersempit dan terpecah
Karena ulah penjajah, kerajaan Mataram yang besar, di bawah Sultan Agung
Hanyokrokusumo, terpecah belah menjadi kerajaan yang kecil. Melalui
perjanjian Gianti 1755, kerajaan Mataram dipecah menjadi Kasunanan
Surakarta dan Kesultanan Ngayoyakarta. Dengan perjanjian Salatiga 1757
muncullah kekuasaan baru yang disebut Mangkunegaran dan pada tahun
1813 muncul kekuasaan Pakualam. Kenyataan inilah yang dihadapi oleh
Diponegoro.
2) Masuknya adat Barat ke dalam kraton
Pengaruh Belanda di kraton makin bertambah besar. Adat kebiasaan kraton
Yogyakarta seperti menyajikan sirih untuk Sultan bagi pembesar Belanda
yang menghadap Sultan, dihapuskan. Pembesar-pembesar Belanda duduk
sejajar dengan sultan. Yang paling mengkhawatirkan adalah masuknya
minuman keras ke kraton dan beredar di kalangan rakyat.
Perlawanan rakyat Jawa di bawah pimpinan Pangeran Diponegoro merupakan
pergolakan terbesar yang dihadapi pemerintah kolonial Belanda di Jawa. Pemerintah
kolonial Belanda mengalami kesulitan mengatasi perlawanan ini dan menanggung
biaya yang sangat besar. Adapun sebab-sebab terjadinya Perang Diponegoro dapat
dibagi menjadi dua, yaitu sebab umum dan sebab khusus.
a. Sebab-Sebab Umum
1) Wilayah Mataram semakin dipersempit dan terpecah
Karena ulah penjajah, kerajaan Mataram yang besar, di bawah Sultan Agung
Hanyokrokusumo, terpecah belah menjadi kerajaan yang kecil. Melalui
perjanjian Gianti 1755, kerajaan Mataram dipecah menjadi Kasunanan
Surakarta dan Kesultanan Ngayoyakarta. Dengan perjanjian Salatiga 1757
muncullah kekuasaan baru yang disebut Mangkunegaran dan pada tahun
1813 muncul kekuasaan Pakualam. Kenyataan inilah yang dihadapi oleh
Diponegoro.
2) Masuknya adat Barat ke dalam kraton
Pengaruh Belanda di kraton makin bertambah besar. Adat kebiasaan kraton
Yogyakarta seperti menyajikan sirih untuk Sultan bagi pembesar Belanda
yang menghadap Sultan, dihapuskan. Pembesar-pembesar Belanda duduk
sejajar dengan sultan. Yang paling mengkhawatirkan adalah masuknya
minuman keras ke kraton dan beredar di kalangan rakyat.
3) Belanda ikut campur tangan dalam urusan
kraton
Campur tangan yang amat dalam mengenai
penggantian tahta dilaksanakan oleh Belanda.
Demikian pula mengenai pengangkatan birokrasi
kerajaan. Misalnya pengangkatan beberapa
pegawai yang ditugaskan untuk memungut pajak.
4) Hak-hak para bangsawan dan abdi dalem
dikurangi
Telah terjadi kebiasaan bahwa kepada keluarga
raja (sentana dalem), memberikan jaminan hidup
berupa tanah apanase, juga kepada pegawai
kerajaan (abdi dalem) diberikan gaji berupa tanah
lungguh. Pada masa Kompeni maupun masa
kolonial Inggris dan Belanda, banyak tanah-tanah
tersebut diambil oleh pemerintah kolonial. Dengan
demikian para bangsawan (sentana dalem) dan para abdi banyak yang
kehilangan sumber penghasilan. Akibatnya di hati mereka timbul rasa tidak
senang karena hak-haknya dikurangi, termasuk hak-hak raja dan kerajaan.
5) Rakyat menderita akibat dibebani berbagai pajak
Berbagai macam pajak yang dibebankan pada rakyat, antara lain:
- pejongket (pajak pindah rumah);
- kering aji (pajak tanah);
- pengawang-awang (pajak halaman-pekarangan);
- pencumpling (pajak jumlah pintu);
- pajigar (pajak ternak);
- penyongket (pajak pindah nama);
- bekti (pajak menyewa tanah atau menerima jabatan).
b. Sebab Khusus
Sebab yang meledakkan perang ialah provokasi yang dilakukan penguasa
Belanda seperti merencanakan pembuatan jalan menerobos tanah Pangeran
Diponegoro dan membongkar makam keramat. Sebagai protes patok-patok (tanda
dari tongkat kayu pendek) untuk pembuatan jalan dicabut dan diganti dengan
tombak-tombak. Residen Smissaert berusaha mengadakan perundingan tetapi,
Pangeran Diponegoro tidak muncul, hanya mengirim wakilnya, Pangeran
Mangkubumi. Asisten Residen Chevallier untuk menangkap kedua pangeran,
kraton
Campur tangan yang amat dalam mengenai
penggantian tahta dilaksanakan oleh Belanda.
Demikian pula mengenai pengangkatan birokrasi
kerajaan. Misalnya pengangkatan beberapa
pegawai yang ditugaskan untuk memungut pajak.
4) Hak-hak para bangsawan dan abdi dalem
dikurangi
Telah terjadi kebiasaan bahwa kepada keluarga
raja (sentana dalem), memberikan jaminan hidup
berupa tanah apanase, juga kepada pegawai
kerajaan (abdi dalem) diberikan gaji berupa tanah
lungguh. Pada masa Kompeni maupun masa
kolonial Inggris dan Belanda, banyak tanah-tanah
tersebut diambil oleh pemerintah kolonial. Dengan
demikian para bangsawan (sentana dalem) dan para abdi banyak yang
kehilangan sumber penghasilan. Akibatnya di hati mereka timbul rasa tidak
senang karena hak-haknya dikurangi, termasuk hak-hak raja dan kerajaan.
5) Rakyat menderita akibat dibebani berbagai pajak
Berbagai macam pajak yang dibebankan pada rakyat, antara lain:
- pejongket (pajak pindah rumah);
- kering aji (pajak tanah);
- pengawang-awang (pajak halaman-pekarangan);
- pencumpling (pajak jumlah pintu);
- pajigar (pajak ternak);
- penyongket (pajak pindah nama);
- bekti (pajak menyewa tanah atau menerima jabatan).
b. Sebab Khusus
Sebab yang meledakkan perang ialah provokasi yang dilakukan penguasa
Belanda seperti merencanakan pembuatan jalan menerobos tanah Pangeran
Diponegoro dan membongkar makam keramat. Sebagai protes patok-patok (tanda
dari tongkat kayu pendek) untuk pembuatan jalan dicabut dan diganti dengan
tombak-tombak. Residen Smissaert berusaha mengadakan perundingan tetapi,
Pangeran Diponegoro tidak muncul, hanya mengirim wakilnya, Pangeran
Mangkubumi. Asisten Residen Chevallier untuk menangkap kedua pangeran,
digagalkan oleh barisan rakyat di
Tegalreja. Mereka telah meninggalkan
tempat. Pangeran Diponegoro pindah ke
Selarong tempat ia memimpin perang.
Pangeran Diponegoro minta kepada
Residen agar Patih Danurejo dipecat.
Surat baru mulai ditulis mendadak rumah
Pangeran Diponegoro diserbu oleh
serdadu Belanda di bawah pimpinan
Chevailer. Diponegoro menyingkir dari
Tegalrejo beserta keluarganya. Rumah
Pangeran Diponegoro dibakar habis. Dia
diikuti oleh Pangeran Mangkubumi. Pergilah mereka ke Kalisoka dan dari sanalah
meletus perlawanan Pangeran Diponegoro (20 Juli 1825). Banyak para pangeran dan
rakyat menyusul Pangeran Diponegoro ke Kalisoka untuk ikut melakukan perlawanan
dengan berlandaskan tekad perang suci membela agama Islam (Perang Sabil)
menentang ketidakadilan. Dari Kalisoka pengikut Pangeran Diponegoro tersebut
dibawa ke Goa Selarong, jaraknya 7 pal (13 km) dari Yogyakarta. Pasukan Belanda
yang mengejar Pangeran Diponegoro dapat dibinasakan oleh pasukan Pangeran
Diponegoro di bawah pimpinan Mulya Sentika. Yogyakarta menjadi kacau, prajurit
Belanda dan Sultan Hamengku Buwana V menyingkir ke Benteng Vredenburg.
c. Jalannya Perlawanan
Dari Selarong, tentara Diponegoro mengepung kota Yogyakarta sehingga Sultan
Hamengku Buwana V yang masih kanak-kanak diselamatkan ke Benteng Belanda.
Perang berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya dengan siasat perang gerilya
dan mendadak menyergap musuh. Pangeran Diponegoro ternyata seorang panglima
perang yang cakap. Berkali-kali pasukan Belanda terkepung dan dibinasakan. Belanda
mulai cemas. Dipanggillah tentaranya yang berada di Sumatera, Sulawesi, Semarang,
dan Surabaya untuk menghadapi laskar Diponegoro. Namun, usaha itu sia-sia.
Pusat pertahanan Diponegoro dipindahkan ke Plered. Dari sini gerakan
Diponegoro meluas sampai di Banyuwangi, Kedu, Surakarta, Semarang, Demak,
dan Madiun. Kemenangan yang diperoleh Diponegoro membakar semangat rakyat
sehingga banyak yang menggabungkan diri. Bupati daerah dan bangsawan kraton
banyak juga yang memihak kepadanya. Misalnya Bupati Madiun, Bupati Kertosono,
Pangerang Serang, dan Pangeran Suriatmojo dari Banyumas.
Di Plered, Pangeran Diponegoro sempat dinobatkan menjadi sultan dengan
gelar Sultan Abdul Hamid Herucakra Amirul Mukminin Sayidin Panatagama
Khalifatullah Tanah Jawa, berpusat di Plered. Tanggal 9 Juni 1862 Plered diserbu
Belanda. Pertahanan dipimpin oleh Kerta Pengalasan. Dalam perang tersebut,
Pangeran Diponegoro dibantu seorang yang gagah berani, bernama Sentot dengan
gelar Alibasyah Prawirodirjo, putra dari Bupati Madiun Raden Ronggo Prawirodirjo.
Tegalreja. Mereka telah meninggalkan
tempat. Pangeran Diponegoro pindah ke
Selarong tempat ia memimpin perang.
Pangeran Diponegoro minta kepada
Residen agar Patih Danurejo dipecat.
Surat baru mulai ditulis mendadak rumah
Pangeran Diponegoro diserbu oleh
serdadu Belanda di bawah pimpinan
Chevailer. Diponegoro menyingkir dari
Tegalrejo beserta keluarganya. Rumah
Pangeran Diponegoro dibakar habis. Dia
diikuti oleh Pangeran Mangkubumi. Pergilah mereka ke Kalisoka dan dari sanalah
meletus perlawanan Pangeran Diponegoro (20 Juli 1825). Banyak para pangeran dan
rakyat menyusul Pangeran Diponegoro ke Kalisoka untuk ikut melakukan perlawanan
dengan berlandaskan tekad perang suci membela agama Islam (Perang Sabil)
menentang ketidakadilan. Dari Kalisoka pengikut Pangeran Diponegoro tersebut
dibawa ke Goa Selarong, jaraknya 7 pal (13 km) dari Yogyakarta. Pasukan Belanda
yang mengejar Pangeran Diponegoro dapat dibinasakan oleh pasukan Pangeran
Diponegoro di bawah pimpinan Mulya Sentika. Yogyakarta menjadi kacau, prajurit
Belanda dan Sultan Hamengku Buwana V menyingkir ke Benteng Vredenburg.
c. Jalannya Perlawanan
Dari Selarong, tentara Diponegoro mengepung kota Yogyakarta sehingga Sultan
Hamengku Buwana V yang masih kanak-kanak diselamatkan ke Benteng Belanda.
Perang berpindah dari satu daerah ke daerah lainnya dengan siasat perang gerilya
dan mendadak menyergap musuh. Pangeran Diponegoro ternyata seorang panglima
perang yang cakap. Berkali-kali pasukan Belanda terkepung dan dibinasakan. Belanda
mulai cemas. Dipanggillah tentaranya yang berada di Sumatera, Sulawesi, Semarang,
dan Surabaya untuk menghadapi laskar Diponegoro. Namun, usaha itu sia-sia.
Pusat pertahanan Diponegoro dipindahkan ke Plered. Dari sini gerakan
Diponegoro meluas sampai di Banyuwangi, Kedu, Surakarta, Semarang, Demak,
dan Madiun. Kemenangan yang diperoleh Diponegoro membakar semangat rakyat
sehingga banyak yang menggabungkan diri. Bupati daerah dan bangsawan kraton
banyak juga yang memihak kepadanya. Misalnya Bupati Madiun, Bupati Kertosono,
Pangerang Serang, dan Pangeran Suriatmojo dari Banyumas.
Di Plered, Pangeran Diponegoro sempat dinobatkan menjadi sultan dengan
gelar Sultan Abdul Hamid Herucakra Amirul Mukminin Sayidin Panatagama
Khalifatullah Tanah Jawa, berpusat di Plered. Tanggal 9 Juni 1862 Plered diserbu
Belanda. Pertahanan dipimpin oleh Kerta Pengalasan. Dalam perang tersebut,
Pangeran Diponegoro dibantu seorang yang gagah berani, bernama Sentot dengan
gelar Alibasyah Prawirodirjo, putra dari Bupati Madiun Raden Ronggo Prawirodirjo.
Dari Plered, pertahanan Pangeran Diponegoro dipindahkan
lagi ke Deksa.
Belanda mengalami kesulitan dalam menghadapi pasukan
Diponegoro. Belanda terpaksa mendatangkan pasukan
tambahan dari negeri Belanda. Namun, pasukan tambahan
Belanda tersebut dapat dihancurkan oleh pasukan Diponegoro.
Akibat berbagai kekalahan perang pada periode tahun
1825 – 1826 Belanda pada tahun 1827 mengangkat Jenderal
De Kock menjadi panglima seluruh pasukan Belanda di Jawa.
Belanda menggunakan siasat perang baru yang dikenal
dengan ”Benteng Stelsell”, yaitu setiap daerah yang dikuasai
didirikan benteng untuk mengawasi daerah sekitarnya.
Antara benteng yang satu dan benteng lainnya dihubungkan
oleh pasukan gerak cepat.
Benteng Stelsell atau Sistem Benteng ini mulai dilaksanakan
oleh Jenderal De Kock pada tahun 1827. Tujuannya adalah
untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro dengan
jalan mendirikan pusat-pusat pertahanan berupa bentengbenteng
di daerah-daerah yang telah dikuasainya.
lagi ke Deksa.
Belanda mengalami kesulitan dalam menghadapi pasukan
Diponegoro. Belanda terpaksa mendatangkan pasukan
tambahan dari negeri Belanda. Namun, pasukan tambahan
Belanda tersebut dapat dihancurkan oleh pasukan Diponegoro.
Akibat berbagai kekalahan perang pada periode tahun
1825 – 1826 Belanda pada tahun 1827 mengangkat Jenderal
De Kock menjadi panglima seluruh pasukan Belanda di Jawa.
Belanda menggunakan siasat perang baru yang dikenal
dengan ”Benteng Stelsell”, yaitu setiap daerah yang dikuasai
didirikan benteng untuk mengawasi daerah sekitarnya.
Antara benteng yang satu dan benteng lainnya dihubungkan
oleh pasukan gerak cepat.
Benteng Stelsell atau Sistem Benteng ini mulai dilaksanakan
oleh Jenderal De Kock pada tahun 1827. Tujuannya adalah
untuk mempersempit ruang gerak pasukan Diponegoro dengan
jalan mendirikan pusat-pusat pertahanan berupa bentengbenteng
di daerah-daerah yang telah dikuasainya.
Dengan adanya siasat baru ini perlawanan pasukan Diponegoro makin lemah.
Di samping itu Belanda berusaha menjauhkan Diponegoro dari pengikutnya.
Di samping itu Belanda berusaha menjauhkan Diponegoro dari pengikutnya.
d. Akhir Perlawanan
Penyerahan para pangeran ini secara berturut-turut sangat memukul perasaan
Diponegoro. Dalam menghentikan perlawanan Diponegoro, Belanda menempuh
jalan yang mungkin. Rupanya Belanda memakai prinsip menghalalkan cara untuk
mencapai tujuan dalam menghadapi Diponegoro.
Belanda mengajak Pangeran Diponegoro untuk berunding di Magelang, Belanda
berjanji seandainya perundingan gagal, Pangeran Diponegoro boleh melanjutkan
kembali ke medan perang.
Perundingan ini baru dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 1830, setelah Diponegoro
beristirahat selama 20 hari karena bulan Ramadhan. Ternyata perundingan ini
menemui kegagalan dan dalam perundingan itulah Pangeran Diponegoro ditangkap.
Belanda telah mengkhianati Diponegoro. Belanda telah mengkhianati janjinya. Dari
Magelang Diponegoro dibawa ke Semarang dan Batavia. Akhirnya diasingkan ke
Manado tanggal 3 Mei 1830. Pada tahun 1834 ia dipindahkan ke Makasar (sekarang
Ujung Pandang) dan wafat tanggal 8 Januari 1855 dalam usia 70 tahun.
Penyerahan para pangeran ini secara berturut-turut sangat memukul perasaan
Diponegoro. Dalam menghentikan perlawanan Diponegoro, Belanda menempuh
jalan yang mungkin. Rupanya Belanda memakai prinsip menghalalkan cara untuk
mencapai tujuan dalam menghadapi Diponegoro.
Belanda mengajak Pangeran Diponegoro untuk berunding di Magelang, Belanda
berjanji seandainya perundingan gagal, Pangeran Diponegoro boleh melanjutkan
kembali ke medan perang.
Perundingan ini baru dilaksanakan pada tanggal 28 Maret 1830, setelah Diponegoro
beristirahat selama 20 hari karena bulan Ramadhan. Ternyata perundingan ini
menemui kegagalan dan dalam perundingan itulah Pangeran Diponegoro ditangkap.
Belanda telah mengkhianati Diponegoro. Belanda telah mengkhianati janjinya. Dari
Magelang Diponegoro dibawa ke Semarang dan Batavia. Akhirnya diasingkan ke
Manado tanggal 3 Mei 1830. Pada tahun 1834 ia dipindahkan ke Makasar (sekarang
Ujung Pandang) dan wafat tanggal 8 Januari 1855 dalam usia 70 tahun.
Perang Banjar tahun 1859-1863
Perang Banjar tahun 1859-1863
Perang Banjar merupakan perlawanan rakyat terhadap Belanda di Kalimantan Selatan. Seperti halnya di daerah lain di Indonesia sebab-sebab perang adalah:
- Faktor ekonomi. Belanda melakukan monopoli perdagangan lada, rotan, damar, serta hasil tambang yaitu emas dan intan. Monopoli tersebut sangat merugikan rakyat maupun pedagang di daerah tersebut sejak abad 17. Pada abad 19 Belanda bermaksud menguasai Kalimantan Selatan untuk melaksanakan Pax Netherlandica. Apalagi di daerah itu diketemukan tambang batu bara di Pangaronan dan Kalangan.
- Faktor politik. Belanda ikut campur urusan tahta kerajaan yang menimbulkan berbagai ketidak senangan. Pada saat menentukan pengganti Sultan Adam maka yang diangkat adalah Pangeran Tamjidillah yang disenangi Belanda. Sedangkan Pangeran Hidayatullah yang lebih berhak atas tahta hanya dijadikan Mangkubumi karena tidak menyukai Belanda.
Campur tangan Belanda di keraton makin besar dan kedudukan Pangeran Hidayatullah makin terdesak maka ia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama Pangeran Antasari, sepupunya. Siapakah para pengikut perjuangan tersebut? Tidak kurang dari 3000 orang bersedia membantu termasuk tokoh-tokoh agama seperti Kyai Demang Leman, Haji Langlang, Haji Nasrum dan Haji Buyasih. Pasukan Antasari berusaha menyerang pos-pos Belanda di Martapura dan Pangaron. Sebaliknya pada pertempuran tanggal 27 September 1859 Belanda dapat menduduki benteng pasukan Pangeran Antasari di Gunung Lawak.
Tindakan Belanda berikutnya adalah menurunkan Sultan Tamjidillah dari tahta sementara itu Pangeran Hidayatullah menolak untuk menghentikan perlawanan lalu perti meninggalkan kraton, maka pada tahun 1860 kerajaan Banjar dihapuskan dan daerah tersebut menjadi daerah kekuasaan Belanda.
Apakah tindakan Belanda terebut menyurutkan perlawanan Pangeran Antasari? Ternyata tidak. Walaupun Kyai Damang Laman menyerah dan Pangeran Hidayatullan tertangkap alalu dibuang ke Cianjur namun Pangeran Antasari tetap memimpin perlawanan bahkan ia diangkat oleh rakyat menjadi pemimpin tertinggi agama dengan gelar Panembahan Amirudin Khalifatul Mukminin pada tanggal 14 Maret 1862. Ia dibantu oleh para pemimpin yang lain yaitu Pangeran Miradipa, Tumenggung Surapati dan Gusti Umah yang memusatkan pertahanan di Hulu Teweh. Perlawanan Antasari berakhir sampai meninggal dunia tanggal 11 Oktober 1862 kemudian dilanjutkan oleh puteranya bernama Pangeran Muhamad Seman.
- Faktor ekonomi. Belanda melakukan monopoli perdagangan lada, rotan, damar, serta hasil tambang yaitu emas dan intan. Monopoli tersebut sangat merugikan rakyat maupun pedagang di daerah tersebut sejak abad 17. Pada abad 19 Belanda bermaksud menguasai Kalimantan Selatan untuk melaksanakan Pax Netherlandica. Apalagi di daerah itu diketemukan tambang batu bara di Pangaronan dan Kalangan.
- Faktor politik. Belanda ikut campur urusan tahta kerajaan yang menimbulkan berbagai ketidak senangan. Pada saat menentukan pengganti Sultan Adam maka yang diangkat adalah Pangeran Tamjidillah yang disenangi Belanda. Sedangkan Pangeran Hidayatullah yang lebih berhak atas tahta hanya dijadikan Mangkubumi karena tidak menyukai Belanda.
Campur tangan Belanda di keraton makin besar dan kedudukan Pangeran Hidayatullah makin terdesak maka ia melakukan perlawanan terhadap Belanda bersama Pangeran Antasari, sepupunya. Siapakah para pengikut perjuangan tersebut? Tidak kurang dari 3000 orang bersedia membantu termasuk tokoh-tokoh agama seperti Kyai Demang Leman, Haji Langlang, Haji Nasrum dan Haji Buyasih. Pasukan Antasari berusaha menyerang pos-pos Belanda di Martapura dan Pangaron. Sebaliknya pada pertempuran tanggal 27 September 1859 Belanda dapat menduduki benteng pasukan Pangeran Antasari di Gunung Lawak.
Tindakan Belanda berikutnya adalah menurunkan Sultan Tamjidillah dari tahta sementara itu Pangeran Hidayatullah menolak untuk menghentikan perlawanan lalu perti meninggalkan kraton, maka pada tahun 1860 kerajaan Banjar dihapuskan dan daerah tersebut menjadi daerah kekuasaan Belanda.
Apakah tindakan Belanda terebut menyurutkan perlawanan Pangeran Antasari? Ternyata tidak. Walaupun Kyai Damang Laman menyerah dan Pangeran Hidayatullan tertangkap alalu dibuang ke Cianjur namun Pangeran Antasari tetap memimpin perlawanan bahkan ia diangkat oleh rakyat menjadi pemimpin tertinggi agama dengan gelar Panembahan Amirudin Khalifatul Mukminin pada tanggal 14 Maret 1862. Ia dibantu oleh para pemimpin yang lain yaitu Pangeran Miradipa, Tumenggung Surapati dan Gusti Umah yang memusatkan pertahanan di Hulu Teweh. Perlawanan Antasari berakhir sampai meninggal dunia tanggal 11 Oktober 1862 kemudian dilanjutkan oleh puteranya bernama Pangeran Muhamad Seman.
perlawanan bali
Keinginan Belanda untuk menguasai Bali dimulai sejak tahun 1841 dan seluruh raja di Bali dipaksa untuk menandatangani perjanjian yang isinya agar raja di Bali mengakui dan tuntuk kepada pemerintah Belanda. Sikap Belanda yang sewenang-wenang ini mendapat perlawanan dari rakyat Bali.
Keinginan Belanda untuk menguasai Bali selalu tidak berhasil karena Bali masih bersifat konservatif (masih berlaku adat atau tradisi), yaitu hak tawan karang yang dianggap oleh Belanda sangat merugikan. Pada tahun 1844, kapal Belanda terdampar di Pantai Buleleng dan dikenakan hukum tawan karang. Pihak Belanda menolak dan menunjukkan sikap tidak terpuji, yaitu selalu turut campur urusan kerajaan di Bali dengan mengajukan tuntutan dengan isi sebagai berikut:
- Membebaskan Belanda dari hukum Tawan Karang.
- Kerajaan Bali mengakui pemerintahan Hindia Belanda.
- Kerajaan Bali melindungi perdagangan milik pemerintah Belanda.
- Semua raja di Bali harus tunduk terhadap semua perintah kolonial Belanda.
Semua tuntutan yang diajukan pemerintah Belanda terhadap rakyat Bali ditolak sehingga pada tahun 1846 Belanda menyerang wilayah Bali Utara dan memaksa Raja Buleleng untuk menandatangani perjanjian perdamaian yang isinya antara lain sebagai berikut:
- Benteng Kerajaan Buleleng agar dibongkar.
- Pasukan Belanda ditempatkan di Buleleng.
- Biaya perang harus ditanggung oleh Raja Buleleng.
Pada tahun 1848, raja-raja di Bali tidak lagi mematuhi kehendak Bali, bahkan beberapa kerajaan telah bersiap-siap untuk menghadapi Belanda. Pos-pos pertahanan Belanda di Bali diserbu dan semua senjata dirampas oleh Gusti Jelantik. Peristiwa ini menimbulkan kemarahan Belanda dan menuntut agar Gusti Jelantik diserahkan kepada Belanda.
Pada tahun 1849, pasukan Belanda datang dari Batavia untuk menyerbu dan menguasai seluruh pantai Buleleng dan menyerbu Benteng Jagaraga. Pasukan Bali melakukan perlawanan habis-habisan (puputan) tetapi akhirnya Benteng Jagaraga dapat dikuasai oleh Belanda. Sejak runtuhnya Kerajaan Buleleng, perjuangan rakyat Bali makin lemah. Meskipun demikian, Kerajaan Karangasem dan Klungkung masih berusaha melakukan perlawanan terhadap Belanda.
Perlawanan rakyat maluku
Perlawanan Rakyat Maluku tahun 1817
Tidakan sewenang-wenang yang dilakukan VOC di Maluku kembali dilanjutkan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda setelah berkuasa kembali pada tahun 1816 dengan berakhirnya pemerintah Inggris di Indonesia tahun 1811-1816.
Berbagai tindakan yang dilakukan oleh pemerintah Kolonial Hindia Belanda di bawah ini menyebabkan timbulnya perlawanan rakyat Maluku.
a. Penduduk wajib kerja paksa untuk kepentingan Belanda misalnya di perkebunan-perkebunan dan membuat garam.
b. Penyerahan wajib berupa ikan asin, dendeng dan kopi.
e. Banyak guru dan pegawai pemerintah diberhentikan dan sekolah hanya dibuka di kota-kota besar saja.
d. Jumlah pendeta dikurangi sehingga kegaitan menjalankan ibadah menjadi terhalang.
e. Secara khusus yang menyebabkan kemarahan rakyat adalah penolakan Residen Van den Berg terhadap tuntutan rakyat untuk membayar harga perahu yang dipisah sesuai dengan harga sebenarnya.Tahun 1817 rakyat Saparua mengadakan pertemuan dan menyepakati untuk memilih Thomas Matulessy (Kapitan Pattimura) untuk memimpin perlawanan. Keesokan harinya mereka berhasil merebut benteng Duurstede di Saparua sehingga residen Van den Berg tewas. Selain Pattimura tokoh lainnya adalah Paulus Tiahahu dan puterinya Christina Martha Tiahahu. Anthoni Reoak, Phillip Lattumahina, Said Perintah dan lain-lain. Perlawanan juga berkobar di pulau-pulau lain yaitu Hitu, Nusalaut dan Haruku penduduk berusaha merebut benteng Zeeeland.
Untuk merebut kembali benteng Duurstede, pasukan Belanda didatangkan dari Ambon dibawah pimpinan Mayor Beetjes namun pendaratannya digagalkan oleh penduduk dan mayor Beetjes tewas. Pada bulan Nopember 1817 Belanda mengerahkan tentara besar-besaran dan melakukan sergapan pada malam hari Pattimura dan kawan-kawannya tertangkap. Mereka menjalani hukuman gantung pada bulan Desember 1817 di Ambon. Paulus Tiahahu tertangkap dan menjalani hukuman gantung di Nusalaut. Christina Martha Tiahahu dibuang ke pulau Jawa. Selama perjalanan ia tutup mulut dan mogok makan yang menyebabkan sakit dan meninggal dunia dalam pelayaran pada awal Januari tahun 1818.
Perang ini disebabkan oleh Belanda yang sewenang2 terhadap Maluku
Perang ini berlangsung pada tahun 1817
Tokoh-tokohnya antara lain:
1. Thomas Matulessy / Kapitan Pattimura
3. Kapitan Paulus Tiahahu
Perang ini Disertai dengan perebutan benteng Duurstde yang mengakibatkan kematian Jendral Van Den Berg. Karena adanya bantuan Inggris, Kapten Pattimura terdesak masuk hutan dan benteng-bentengnya direbut kembali pemerintah. Rakyat nusa laut menyerah tanggal 10 November 1817 setelah pimpinannya Kapiten Paulus Tiahahu serta putrinya Kristina Martha Tiahahu. Tanggal 12 November 1817 Kapitan Pattimura ditangkap dan bersama tiga penglimanya dijatuhi hukuman mati di Niuew Victoria di Ambon.
Perlawanan aceh
Perlawanan Rakyat Aceh (1873-1904)
Aceh merupakan salah satu kerajaan di Indonesia yang kuat dan masih tetap bertahan hingga abad XIX. Berdasarkan Traktat London tahun 1824 bangsa Inggris dan Belanda yang sudah pernah berkuasa di Indonesia harus saling sepakat menghormati keberadaan Kerajaan Aceh.
Berdasarkan Perjanjian (Traktat) Sumatra tahun 1871 atau yang lebih dikenal dengan Traktat London ke-3, pihak Inggris melepas tuntutannya terhadap daerah Aceh. Kerajaan Aceh berusaha mencari bantuan ke Turki serta menghubungi Kedutaan Italia dan Amerika Serikat di Singapura. Sementara bantuan dari Turki belum datang, pada bulan Maret 1873 Belanda di bawah pimpinan Jenderal Kohler berusaha merebut dan menduduki ibu kota dan istana Kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh berhasil diduduki, tetapi dalam pertempuran tersebut Jenderal Kohler tewas tertembak. Mengawali terjadinya Perang Aceh yang berkepanjangan mulai tahun 1 873-1904 pasukan Belanda melaksanakan operasi Konsentrasi Stelsel sambil menggertak para pemimpin Aceh agar menyerah. Beberapa pimpinan utama Aceh, yaitu Teuku Cik Di Tiro, Cut Nya Din, Panglima Polim, dan Cut Meutia (bersama-sama dengan rakyat Aceh) melancarkan serangan umum.
Pada bulan Desember 1873 Belanda mengirim pasukan perang ke Aceh dengan kekuatan 8.000 personel di bawah pimpinan Mayor Jenderal Van Swiesten. Akan tetapi, upaya Belanda menawan Sultan Mahmud Syah belum berhasil karena sultan beserta para pejabat kerajaan telah menyingkir ke Luengbata. Setelah Sultan Mahmud Syah meninggal karena sakit, ia digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Muhammad Daudsyah.
Setelah Teuku Cik Di Tiro sebagai pemimpin utama Aceh wafat, pucuk pimpinan dilanjutkan Teuku Umar dan Panglima Polim. Pada tahun 1893 Teuku Umar beserta pasukannya memanfaatkan kelengahan Belanda dengan tujuan mendapatkan senjata. Kemenangan Teuku Umar disambut baik oleh rakyat sehingga beliau mendapat gelar Teuku Johan Pahlawan. Pada tahun 1896 Teuku Umar bergabung kembali dengan rakyat Aceh membangun markas pertahanan MeuIaboh.
Peristiwa Teuku Umar yang berhasil menyiasati Belanda dipandang sebagai kesalahan besar. Deykerhoff sebagai gubernur militer, digantikan oleh Jenderal Van Heutsz. Belanda memberi tugas kepada Dr. Snouck Hurgronje untuk menyelidiki perilaku masyarakat Aceh. Dr. Snouck Hurgronje dalam menjalankan tugasnya menggunakan nama samaran, yaitu Abdul Gafar.
Untuk mengalahkan Aceh, lebih cepat dan tepat, Belanda menggunakan strategi sebagai berikut.
a) Menghancurkan dan menangkap seluruh pemimpin dan ulama dari pusat.
b) Membentuk pasukan gerak cepat (marechausse).
c) Semua pemimpin dan ulama yang tertangkap harus menandatangani perjanjian.
d) Setelah melakukan operasi militer, Belanda mengikuti kegiatan perdamaian rehabilitasi (pasifikasi).
e) Bersikap lunak terhadap para bangsawan.
Atas usulan Dr. Snouck Hurgronje, pemerintah Belanda memberi tugas kepada Jenderal Militer Van Heutsz. Pada tahun 1899 pasukan gerak cepat pimpinan Van Heutsz berhasil menewaskan Teuku Umar. Perlawanan dilanjutkan oleh istrinya, Cut Nyak Din, tetapi kemudian tertangkap dan diasingkan ke Sumedang hingga akhir hayatnya.
Belanda menyandera keluarga raja dan keluarga Panglima Polim. Perlawanan Aceh berikutnya dilanjutkan oleh Cut Meutia, tetapi perlawanan ini dapat dipadamkan. Perlawanan Aceh terus berlangsung hingga tahun 1942.
Berdasarkan Perjanjian (Traktat) Sumatra tahun 1871 atau yang lebih dikenal dengan Traktat London ke-3, pihak Inggris melepas tuntutannya terhadap daerah Aceh. Kerajaan Aceh berusaha mencari bantuan ke Turki serta menghubungi Kedutaan Italia dan Amerika Serikat di Singapura. Sementara bantuan dari Turki belum datang, pada bulan Maret 1873 Belanda di bawah pimpinan Jenderal Kohler berusaha merebut dan menduduki ibu kota dan istana Kerajaan Aceh. Kerajaan Aceh berhasil diduduki, tetapi dalam pertempuran tersebut Jenderal Kohler tewas tertembak. Mengawali terjadinya Perang Aceh yang berkepanjangan mulai tahun 1 873-1904 pasukan Belanda melaksanakan operasi Konsentrasi Stelsel sambil menggertak para pemimpin Aceh agar menyerah. Beberapa pimpinan utama Aceh, yaitu Teuku Cik Di Tiro, Cut Nya Din, Panglima Polim, dan Cut Meutia (bersama-sama dengan rakyat Aceh) melancarkan serangan umum.
Pada bulan Desember 1873 Belanda mengirim pasukan perang ke Aceh dengan kekuatan 8.000 personel di bawah pimpinan Mayor Jenderal Van Swiesten. Akan tetapi, upaya Belanda menawan Sultan Mahmud Syah belum berhasil karena sultan beserta para pejabat kerajaan telah menyingkir ke Luengbata. Setelah Sultan Mahmud Syah meninggal karena sakit, ia digantikan oleh putranya yang bernama Sultan Muhammad Daudsyah.
Setelah Teuku Cik Di Tiro sebagai pemimpin utama Aceh wafat, pucuk pimpinan dilanjutkan Teuku Umar dan Panglima Polim. Pada tahun 1893 Teuku Umar beserta pasukannya memanfaatkan kelengahan Belanda dengan tujuan mendapatkan senjata. Kemenangan Teuku Umar disambut baik oleh rakyat sehingga beliau mendapat gelar Teuku Johan Pahlawan. Pada tahun 1896 Teuku Umar bergabung kembali dengan rakyat Aceh membangun markas pertahanan MeuIaboh.
Peristiwa Teuku Umar yang berhasil menyiasati Belanda dipandang sebagai kesalahan besar. Deykerhoff sebagai gubernur militer, digantikan oleh Jenderal Van Heutsz. Belanda memberi tugas kepada Dr. Snouck Hurgronje untuk menyelidiki perilaku masyarakat Aceh. Dr. Snouck Hurgronje dalam menjalankan tugasnya menggunakan nama samaran, yaitu Abdul Gafar.
Untuk mengalahkan Aceh, lebih cepat dan tepat, Belanda menggunakan strategi sebagai berikut.
a) Menghancurkan dan menangkap seluruh pemimpin dan ulama dari pusat.
b) Membentuk pasukan gerak cepat (marechausse).
c) Semua pemimpin dan ulama yang tertangkap harus menandatangani perjanjian.
d) Setelah melakukan operasi militer, Belanda mengikuti kegiatan perdamaian rehabilitasi (pasifikasi).
e) Bersikap lunak terhadap para bangsawan.
Atas usulan Dr. Snouck Hurgronje, pemerintah Belanda memberi tugas kepada Jenderal Militer Van Heutsz. Pada tahun 1899 pasukan gerak cepat pimpinan Van Heutsz berhasil menewaskan Teuku Umar. Perlawanan dilanjutkan oleh istrinya, Cut Nyak Din, tetapi kemudian tertangkap dan diasingkan ke Sumedang hingga akhir hayatnya.
Belanda menyandera keluarga raja dan keluarga Panglima Polim. Perlawanan Aceh berikutnya dilanjutkan oleh Cut Meutia, tetapi perlawanan ini dapat dipadamkan. Perlawanan Aceh terus berlangsung hingga tahun 1942.
Keuntungan punya coowok usianya jauh lbh tua
keuntungan punya cowok yang usianya jauh lebih tua: 1. Hubungan lebih sehat Cowok yang usianya lebih tua dari kamu punya kemampuan untuk memahami dan siapa saja yang dibutuhkan untuk membangun dan memelihara hubungan sehat. Apalagi, jika dirnya pernah memiliki pengalaman buruk dengan kisah cinta di masa lalu. Hal tersebut tentunya akan dijadikan pembelajaran agar hubungan saat ini selalu bisa harmonis dan lebih baik.
2. Dapat dukungan dan perhatian Cowok yang seumuran atau usianya tak beda jauh dari kamu biasanya masih memiliki ego yang sama. Selain itu, masih banyak hal lain yang masih dilakukan daripada fokus pada pacar. Misalnya, melakukan hobi, berkumpul bersama teman-teman, mengejar karier, dan lain sebagainya. Tapi, tidak dengan cowok yang usianya jauh lebih tua dari kamu. Biasanya cowok seperti itu merupakan sosok yang bertanggung jawab dan memperrhatikan serta mendukung pacarnya. Pacaran dengan cowok lebih tua – Ist
3. Lebih serius Pacaran dengan cowok seumuran terkadang tak memikirkan sesuatu dengan serius dan berpandangan jauh ke depan. Ketika bosan atau hubungan tak enak, kemungkinan dirinya akan memutuskan kamu. Berbeda dengan cowok dewasa yang sudah memikirkan masa depan. Mereka akan tulus mencintai kamu dan menjalin hubungan lebih serius. Baca juga: Pilih Mana, Cowok Lebih Muda atau Tua?
4. Konsisten Cowok yang lebih tua biasanya lebih konsisten dalam menjalani atau memutuskan sesuatu. Apalagi jika memang dirinya sudah siap membangun komitmen yang lebih serius dengan kamu.
5. Masa depan terjamin Cowok yang lebih tua biasanya sudah punya rencana untuk kehidupan yang akan datang. Selain itu, dirinya juga sudah mengumpulkan pundi-pundi uang demi masa depannya. Bukan hanya finansialnya saja yang terjamin, tapi cowok lebih dewasa juga aman secara fisik dan emosional. Itulah keuntungan puinya cowok yang usianya jauh lebih tua. Jika sudah berpacaran dengannya, maka kamu juga harus tetap menjadi diri sendiri. Jalinlah hubungan asmara yang harmonis agar bisa segera menuju ke jenjang pernikahan.
2. Dapat dukungan dan perhatian Cowok yang seumuran atau usianya tak beda jauh dari kamu biasanya masih memiliki ego yang sama. Selain itu, masih banyak hal lain yang masih dilakukan daripada fokus pada pacar. Misalnya, melakukan hobi, berkumpul bersama teman-teman, mengejar karier, dan lain sebagainya. Tapi, tidak dengan cowok yang usianya jauh lebih tua dari kamu. Biasanya cowok seperti itu merupakan sosok yang bertanggung jawab dan memperrhatikan serta mendukung pacarnya. Pacaran dengan cowok lebih tua – Ist
3. Lebih serius Pacaran dengan cowok seumuran terkadang tak memikirkan sesuatu dengan serius dan berpandangan jauh ke depan. Ketika bosan atau hubungan tak enak, kemungkinan dirinya akan memutuskan kamu. Berbeda dengan cowok dewasa yang sudah memikirkan masa depan. Mereka akan tulus mencintai kamu dan menjalin hubungan lebih serius. Baca juga: Pilih Mana, Cowok Lebih Muda atau Tua?
4. Konsisten Cowok yang lebih tua biasanya lebih konsisten dalam menjalani atau memutuskan sesuatu. Apalagi jika memang dirinya sudah siap membangun komitmen yang lebih serius dengan kamu.
5. Masa depan terjamin Cowok yang lebih tua biasanya sudah punya rencana untuk kehidupan yang akan datang. Selain itu, dirinya juga sudah mengumpulkan pundi-pundi uang demi masa depannya. Bukan hanya finansialnya saja yang terjamin, tapi cowok lebih dewasa juga aman secara fisik dan emosional. Itulah keuntungan puinya cowok yang usianya jauh lebih tua. Jika sudah berpacaran dengannya, maka kamu juga harus tetap menjadi diri sendiri. Jalinlah hubungan asmara yang harmonis agar bisa segera menuju ke jenjang pernikahan.
Langganan:
Postingan (Atom)